Wasiat Terakhir Anas al-Sharif, Jurnalis Gaza yang Gugur dalam Serangan Israel
Jurnalis Gaza Anas Al-Sharif gugur dalam serangan Israel. Wasiat terakhirnya serukan dunia tak melupakan Gaza dan perjuangan kebenaran.
Editor: Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM - Anas Al-Sharif, jurnalis muda Al Jazeera yang menjadi suara warga Gaza di tengah blokade informasi, tewas dalam serangan Israel bersama empat rekannya. Sebelum gugur, ia meninggalkan wasiat yang menggugah, berisi pesan agar dunia tak melupakan Gaza dan perjuangan kebenaran.
Anas Al-Sharif adalah seorang jurnalis dan videografer Palestina yang bekerja untuk Al Jazeera Arabic, dikenal luas karena liputannya yang berani dari Gaza utara selama perang Israel-Palestina.
Ia tewas dalam serangan udara terarah oleh militer Israel pada 10 Agustus 2025, bersama empat rekannya, saat berada di tenda jurnalis di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza
Saat gencatan senjata di Gaza berlaku pada Januari, Anas Al-Sharif tampil di televisi melepas perlengkapan pelindungnya, disambut sorak gembira warga yang berharap akhir penderitaan 2 juta rakyat Palestina.
Namun, tujuh bulan kemudian, jurnalis berusia 28 tahun itu tewas dibombardir Israel di Kota Gaza.
Wartawan peliput perang memakai perlengkapan pelindung karena mereka bekerja di zona konflik berisiko tinggi, di mana keselamatan fisik bisa terancam kapan saja.
Perlengkapan ini bukan sekadar aksesori—itu adalah alat penyelamat nyawa.
Tujuan Utama Perlengkapan Pelindung
Melindungi dari tembakan dan ledakan
Helm balistik dan rompi antipeluru dirancang untuk menahan serpihan, peluru, atau tekanan dari ledakan.
Identifikasi sebagai jurnalis
Tulisan besar “PRESS” di rompi atau helm membantu membedakan mereka dari kombatan, agar tidak dijadikan target.
Meningkatkan peluang bertahan hidup
Dalam situasi seperti serangan udara atau baku tembak, perlindungan fisik bisa menjadi penentu hidup dan mati.
Mematuhi protokol keselamatan internasional
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.